10/26/2021

Seramnya Fenomena Budaya Boikot / Cancel Culture

October 26, 2021 0

 

lahstalon.org


Akhir-akhir ini, di seluruh platform social media lagi ramai banget dengan kasus yang tengah menimpa aktor “K”. Kenapa heboh banget sampai orang lokal kitapun ikut berkomentar mengenai hal ini? Karena aktor tersebut memang sedang ada di puncak karirnya. Karir ia sedang naik-naiknya, digandrungi para fans wanita karena wajah rupawannya, setiap drama yang ia mainkan sukses disukai banyak orang, variety shownya sedang berjalan, iklannya di mana-mana bahkan sampai menyasar konsumen Indonesia dengan produk skin care-nya.


Namun suatu hari, setelah drama terakhir yang ia perankan berakhir, dan dengan (bisa dibilang) kesuksesan drama tersebut berdasarkan banyaknya komentar positif dari para penonton, tiba-tiba seorang anonymous yang diketahui adalah mantan kekasih aktor “K” buka suara terkait hal-hal (yang diduga) buruk aktor “K” ketika mereka masih menjalin hubungan. Yang paling membuat orang-orang marah adalah pernyataan si anonymous bahwa aktor “K” memaksanya untuk melakukan aborsi janin hasil hubungan mereka berdua. Memang si anonymous tidak menyebutkan nama aktor “K” secara gamblang. Namun, dengan segala pernyataannya dalam pengakuan tersebut, semuanya mengarah ke aktor KSH. Awal-awalnya beberapa netizen dan penggemarnya KSH menepis bahwa yang sedang dibicarakan adalah KSH. Sampai 2 hari berikutnya, aktor KSH secara tidak langsung mengakui dan meminta maaf atas apa yang telah dilakukan berdasarkan pernyataan si anonymous lewat akun instagram pribadinya.


Dus! Seakan-akan seperti membalikkan telapak tangan. Karir aktor “K” yang sedang berada di puncak ke-emasan seketika terjun bebas ke dasar jurang. Karirnya hancur hanya dari pernyataan seorang anonymous terkait masa lalunya. Image-nya yang selama ini dibangun sebagai “good boy” seketika menguap tanpa bekas. Penggemarnya kemudian satu persatu mundur dari barisan. Bahkan netizen yang sekedar menyukai drama-drama yang ia mainkan juga menjadi mual, dan ogah meneruskan episod dramanya sampai habis. Sejak hari itu, dunia seakan mengutuk (yang diduga) kelakuan KSH, terutama soal keputusannya untuk mengaborsi anaknya sendiri. Dan sejak hari itu pula, Aktor “K” terkena cancel culture yang menyeramkan.


Allkpop.com


Apa itu cancel culture? Dikutip dari laman lifestyle.kompas.com, menurut Lisa Nakamura, seorang Professor di University of Michigan, Amerika Serikat, cancel culture adalah “boikot budaya” terhadap selebrity, merek, perusahaan, atau konsep tertentu. Umumnya dilakukan kepada pesohor yang tersandung skandal  atau isu akan perilakunya yang bermasalah. Kemudian, Mengutip dari The Privater Theraphy Clinic Merriam-Webster menyatakan bahwa "cancel", dalam konteks ini, berarti "berhenti memberikan dukungan kepada [seorang] orang". Dictionary.com, dalam kamus budaya popnya, mendefinisikan cancel culture sebagai "menarik dukungan untuk (yaitu 'membatalkan') tokoh publik dan perusahaan setelah mereka melakukan atau mengatakan sesuatu yang dianggap tidak menyenangkan atau menyinggung."  


Nah, di Korea Selatan, sebelum menimpa aktor “K”, sudah banyak banget selebritas yang terkena cancel culure akibat skandal yang mereka lakukan, baik di masa ketika ia sudah menjadi selebritas, ataupun terkait masa lalu mereka yang terbongkar. Sebut saja ex member grup AOA, Jimin yang terkena cancel culture akibat terbongkarnya kenyataan bahwa selama di AOA, ia selalu membully member lain yaitu Mina. Akibat terbongkarnya hal tersebut, para Kpopers dan penggemarnya dipenuhi kekecewaan. Ia terkena cancel culture, dibully oleh masyarakat, lalu hengkang dari grup AOA, dan kabarnya sekarang ia tinggal jauh dari kota Seoul, dan tidak pernah muncul lagi di industri hiburan Korea. Contoh lain adalah (bisa dibilang) skandal terbesar di Korea Selatan, yang menyeret anggota Grup Bigbang, Seungri. Ia terlibat kasus korupsi, obat-obatan terlarang, dan yang terheboh adalah skandal prostitusinya yang sangat dikecam oleh fans ataupun non-fans seluruh dunia. Sejak terbongkarnya skandal tersebut, Seungri memutuskan untuk mundur dari Industri hiburan Korea dan saat ini sedang menjalani masa hukumannya di penjara.


Lihatlah betapa kejamnya cancel culture di Negara ginseng tersebut. Semua image baik yang dibangun dari 0, semua kebaikannya di masa lalu, semua kesuksesan yang pernah diraih, hancur lebur tak tersisa. Di satu sisi  mereka yang terkena skandal memang berhak mendapatkan cancel culture tersebut sebagai hukuman sosial, namun di sisi lain, bukankah sebetulnya mereka berhak dimaafkan? Dimaafkan bukan berarti bisa diterima lagi di industri hiburan, namun instropeksi dan tidak mengulangi kesalahannya di masa lalu adalah salah satu hal positif yang ditimbulkan dari budaya ini.


Apa sih yang menyebabkan adanya cancel culture di Korea Selatan? Dikutip dari cnnindonesia.com, menurut Kritikus budaya pop Kim Hern-sik, K-netz masih sangat menjunjung tinggi nilai dan etika. Sehingga, standar moral dinilai masih lebih tinggi daripada privasi individu sang artis. Lanjut dikatakan oleh Profesor sosiologi di Universitas Kyung-hee, Song Jae-ryong, situasi tersebut yang membuat para artis Korea menjadi "korban" harapan tinggi sebagian besar masyarakat Korea. Oleh sebab itu, tokoh publik di Korea berisiko diboikot apabila dianggap berperilaku berseberangan dengan masyarakat mayoritas.


gusdurian.net


Cancel culture bukan hanya menjadi budaya di Korea Selatan, lho. Negara Tiongkok juga melakukan hal yang sama terhadap selebritasnya yag terkena skandal. Tapi, karena gue gak ngikutin artis-artis Tiongkok, gue jadi kurang tau bagaimana penerapan cancel culture di sana, dan siapa aja selebritas yang terkena cancel culture. Sekarang pertanyaannya, bagaimana kalau cancel culture atau budaya boikot ini diterapkan di Indonesia? Hmmm.


Kita semua tahu, sebagai masyarakat Indonesia, dari dulu sampai saat ini sudah banyak sekali skandal-skandal yang bisa dibilang memalukan dan tidak patut dicontoh oleh penonton. Lalu setelah itu bagaimana? Lihatlah, tanpa gue sebutin satu persatu, banyak sekali pesohor yang setelah melakukan skandal, sampai saat ini masih berlalu lalang di media sosialnya, bahkan ada pula yang kembali lagi muncul di TV setelah menjalani masa hukuman penjara. Yang paling memalukan dan membuat gue pribadi geram, bahkan membuat mayoritas masyarakat Indonesia geram adalah glorifikasi yang sangat berlebihan ketika pesohor yang telah terbukti melakukan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur telah bebas dari hukuman penjaranya. Ia diarak menggunakan kalung bunga seolah-olah adalah atlet berprestasi yang baru memenangkan olimpiade, padahal ia adalah seorang predator seksual. Dengan tanpa rasa malu ia melambai-lambaikan tangan ke kerumunan orang-orang yang kala itu menyambutnya bebas. He is so sick! He is a predator! Doesn't he know that?! Dia seharusnya malu dan dengan sadar diri mundur dari dunia hiburan ini. Namun nyatanya? Dia berlalu lalang di TV sampai rakyat ramai-ramai melakukan aksi protes kepada pihak KPI dan stasiun TV agar tidak menayangkan wajahnya. Bayangkan bagaimana apabila ia hidup di Negara yang menerapkan cancel culture? Dia gak akan berani menampilakn wajahnya lagi seperti saat ini.


gulfnews.com



Gue rasa, Indonesia harus menerapkan cancel culture, agar orang-orang berpikir untuk tidak melakukan hal yang buruk, agar orang-orang belajar dari kesalahan orang lain, sehingga dunia hiburan di Indonesia bebas dari skandal memalukan dan tak patut dicontoh.


Kayaknya segitu aja deh bahasan mengenai cancel culture. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan kalian sedikit. Buat yang sudah baca, terima kasih. Cheers^^

10/24/2021

Yeayyy!!! I am Fully Vaccinated! | Efek Samping Vaksin Sinovac

October 24, 2021 0

 

deseret.com

Melanjutkan dari cerita gue sebelumnya waktu vaksin pertama di sini, sekarang gue mau cerita kalau gue sudah fully vaccinated. Yeayyy.

Oiya, jadi gue disuntik vaksin kedua ini di tempat gue nugas sebagai petugas input data penerima vaksin di lokasi vaksinasi wilayah tempat tinggal gue. Jadi di wilayah RW lingkungan rumah gue mengadakan sentra vaksinasi khusus buat warga sekitar yang belum mendapatkan vaksinasi, baik yang pertama atau yang kedua. Sentra vaksinasi pertama itu dilaksanakan pada tanggal 13 September 2021, dengan kuota vaksin kurang lebih 800 dosis. Nah, di hari pertama itu, gue juga bertugas jadi petugas input datanya. Dari pagi hingga menjelang sore, warga yang datang, khususnya yang mendapatkan undangan dari RT/RW setempat, sangatlah antusias. Gue yang seharian di sana juga banyak melihat ekspresi-ekspresi ataupun reaksi warga ketika jarum hendak disuntikkan ke tangan mereka. Hehehe. Ada yang datar, ada yang takut, bahkan ada yang menangis. Ya memang rasa takut setiap orang berbeda-beda, ya. Dulu gue juga takut banget sama jarum suntik. Tapi, semenjak gue sering ketemu jarum suntik, lama-lama jadi terbiasa. Hehehe.

Dokumentasi pribadi

Lanjut ke hari di mana gue vaksin kedua. Pada tanggal 11 Oktober 2021, hari itu gue jadi petugas input data lagi di tempat yang sama. Wilayah RW lingkungan rumah gue mengadakan kembali sentra vaksinasi untuk melengkapi kegiatan yang pertama di tanggal 13 September 2021. Kali ini dengan dosis lebih banyak yaitu sekitar 1000 dosis. Sebetulnya, gue tidak ada niatan untuk ikut vaksinasi kedua di situ meskipun gue sebagai petugas. Karena, gue khawatir setelah disuntik, tangan gue pegal-pegal dan gak bisa efektif untuk input data. Hehehe. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, daripada ribet harus ke tempat yang lebih jauh buat dapet vaksin dosis 2, jadilah gue ikut vaksin di situ. Namun gue sengaja supaya dapat suntikan di ujung waktu, ketika warga sudah mulai sedikitt, dan vaksin sudah mulai tersisa sedikit, supaya efek sampingnya gak terlalu memengaruhi gue untuk tetap input data.


Tim Input Data_Dokumentasi Pribadi

For your information, penginputan data vaksin ada dua tahap di laman p-care. Pertama, tahap input data diri penerima vaksin, seperti nama lengkap, alamat, NIK, dan nomor HP. Lalu lanjut ke tahap kedua yaitu penginputan datas screening penerima vaksin seperti tekanan darah, suhu badan, riwayat penyakit, dsb. Sebetulnya menurut gue, cara inputnya simple banget dan sangat amat mudah dimengerti meskipun ketika itu tepat di hari H, tim input data baru di-brief bagaimana cara input data ke laman p-care. Namun yang bikin sedikit ribet adalah apabila warga tidak dengan lengkap mengisi data diri yang sebetulnya wajib diisi seperti nomor HP, karena nomor HP pasti dibutuhkan untuk keperluan sertifikat vaksinasi di aplikasi peduli lindungi. Ada pula yang ternyata NIK-nya belum terdaftar di Dukcapil. Hal yang seperti ini yang sedikit merepotkan petugas input data, dan menyusahkan si pesertanya itu sendiri. Jadi pada akhirnya warga yang data dirinya tidak lengkap tersebut mengalami keterlambatan untuk mendapatkan sertifikat vaksin yang di masa sekarang sangat dibutuhkan.


Dokumentasi Pribadi


Long story short,  pada pagi sebelum vaksinasi dimulai, ketika setiap tim sedang mempersiapkan alat kerjanya, gue iseng pengen cek tensi darah. Karena ntah ada pengaruhnya atau tidak, akhir-akhir itu tengkuk gue suka pegal-pegal dan bikin gue overthinking apakah gue punya hipertensi? Hehehe amit-amit. Maka gue samperin lah petugas tensi darah yang saat itu sedang siap-siap. Gue minta tolong cek tensi. Kebetulan hari itu gue lagi haid hari pertama, ketika gue tanya apakah haid akan berrpengaruh pada hasil tensi, petugasnya jawab tidak. Dan ditensi lah gue. Selama ini, kalau gue di-tensi, paling tidak hasil sistolenya selalu di angka 100-120. Tapi pagi itu hasilnya 140. Kaget lah gue. Masa iya gue kena hipertensi. Hehehe amit-amit. Setelah gue pikir-pikir, memang malam sebelumnya gue sempet ada masalah, sedikit emosi, dan nangis semaleman. Bahkan pagi itupun mata gue masih sembab dengan mood yang sangat down. Gue gatau apakah ada hubungannya antara emosi yang sedang tidak stabil dengan tekanan darah manusia. Namun, seharian itu gue jadi overthinking karena tekanan darah gue yang menurut gue lumayan tinggi.

Nah, sesaat sebelum gue dapet suntikan vaksin kedua, sekitar sebelum istirahat solat Zuhur, gue ditensi lagi, kan. Siang itu Alhamdulillah tensi gue turun jadi 130. Ya lumayan lah, ya. Kebetulan juga, si Yumna sepupu gue yang ikut vaksin hari itu bareng gue juga tensinya 140. Tapi maklum, karena dia memang habis jalan kaki dari rumah ke lokasi vaksin, dan langsung ditensi tanpa istirahat dulu.  Ok, mulai dari situ, gue pikir tensi gue ini emang karena emosi gue yang lagi kurang stabil. Setelah itu lanjutlah gue ke meja vaksinasi untuk disuntik. Kenapa bisa langsung tanpa antri? Karena warga sudah mulai berkurang, dan tidak ada antrian yang puaaanjang seperti pada pagi hari. Nah, kali ini gue minta disuntik di tangan kanan (yang akan gue sesali setelahnya, wkwk), karena gue takut efek vaksin kedua ini sama dengan yang pertama yang udah gue ceritain di sini. Berbeda dengan vaksin pertama, kali ini suntikannya sama sekali tidak terasa. Tau-tau sudah selesai. Tapi efeknya tidak gue sangka-sangka juga, ternyata jauh lebih menyakitkan huhuhu. Beberapa menit setelah disuntik, lengan gue langsung berasa pegal dan sakit di area suntik. Berbeda dengn yang pertama, yang sekarang bahkan gue gak bisa gerakin lengan atas gue dengan bebas. Angkat tangan gak bisa. Untuk basuh setelah pee dan poo juga tidak bisa maksimal. Tidur juga tidak bisa miring ke kanan, bahkan buka bajupun gue kesakitan wkwk. Dan ini berlangsung selama tiga hari dengan intensitas sakit yang semakin hari semakin berkurang. Di hari keempat, gue udah mulai bisa angkat tangan meskipun masih sedikit sakit. Dan hilang 100% di hari keenam. Efek ini juga persis dirasakan oleh Yumna, jadi gue gak ada masalah dengan efek yang ini.

Tapi ternyata, selain sakit di lengan, gue juga merasakan sakit kepala yang luar biasa. Gue gatau ini efek vaksin atau bukan, namun sakit kepala gue ini mulai terasa keesokan malamnya setelah vaksin dan memanjang sampai lebih dari seminggu semenjak vaksin. Sudah diminum parasetamol, bodrex extra, bahkan ke dokter minta obat, sakitnya tidak kunjung berkurang. (BTW, gue sempat ke klinik untuk cek tensi, dan sakit kepala, sekalian cek lab kolesterol. Alhamdulillah tensi gue kembali ke angka normal yaitu 120, dan kolesterol gue juga bagus yaitu di angka 133). Tapi, karena obat dari klinik pertama tidak mempan, akhirnya gue periksa di klinik yang lain. Dokternya bilang bahwa sakit kepala gue mungkin bisa jadi dari asam lambung gue yang naik karena emosi yang sedang tidak baik. (ngomong-ngomong, gue pengen deh kapan kapan nulis tentang gerd anxiety di sini. Kapan-kapan ya). Nah, abis itu obat gue diganti dan ditambah macamnya oleh dokter. Alhamdulillah, 3 hari obat habis, sakit kepala gue lama-lama juga menghilang.

Anyway, intinya gue cuma mau share efek vaksin kedua gue menggunakan vaksin sinovac yang gue rasakan. Semua KIPI yang gue rasakan hanyalah sementara. Hal ini menunjukkan bahwa vaksin tersebut sedang bekerja di dalam tubuh kita untuk bersiap-siap melawan virus yang bisa saja muncul kapanpun. Alhamdulillah sampai saat ini tidak ada bluethoot di dalam tubuh  gue hehehe.

Untuk pelaksanaan vaksinasi di wilayah rumah gue yaitu di Lingkungan 01 Ciriung, tepatnya di RW 02, Kelurahan Ciriung, Kabupaten Bogor, sangat bisa dicontoh oleh wilayah-wilayah lain di Indonesia, supaya herd immunity di Indonesia semakin terbentuk, dan memperkecil potensi kita terkena virus. Semua masyarakat harus ikut turut serta untuk mendapatkan vaksin demi kebaikan diri sendiri, keluarga, teman dan seluruh Rakyat Indonesia.

Dokumentasi Pribadi


NB: Cerita lucu namun cukup menyentuh di hari pelaksanaan vaksin kedua, bapak Lurah Ciriung yang kala itu hadir untuk memantau pelaksanaan vaksinasi, tiba-tiba membawa seorang ODGJ yang memang selalu terlihat di wilayah ini. ODGJ itu biasa kami panggil Joni. Joni dituntun oleh pak Lurah ke meja vaksinasi untuk disuntik vaksin. Dan Alhamdulillah si Joni nurut dan Joni juga sudah divaksin. hihihi

telusur.co.id

Terima kasih yang sudah baca^^

10/07/2021

Pengalaman SKD CPNS Pemkot Bogor 2021

October 07, 2021 3

 

indonesiacollege.co.id

Hi, there. Kali ini gue mau cerita pengalaman gue pertama kali ikut tes CPNS. Udah pada tau lah ya, apa itu CPNS. Seleksinya tiap tahun diadakan (kecuali tahun 2020 karena covid break), dan peminatnya Masya Allah banyak banget, termasuk gue. Struggle gue setelah lulus kuliah tentang karir, membuat gue berpikir bahwa CPNS adalah salah satu karir yang cukup menjanjikan untuk jangka waktu yang panjang. Gue tau, pasti sebagian ada yang mikir bahwa pikiran gue kolot banget, ya? Ya, gue sendiri kadang mikir begitu, sih. Tapi, who cares? I don’t give a damn about people’s thought. Temen-temen gue sendiri juga banyak yang gak tertarik ikut CPNS. Mungkin karena ke-monoton-an kerjanya, ya. I don’t know. Gue gatau kenapa mereka gak tertarik ikut CPNS (dan gak mau tau juga, sih), dan juga gue belum tau bagaimana cara kerja seorang PNS. Jadi, cukup hormati keputusan masing-masing aja.


Awalnya sempat bingung mau daftar di instansi mana dan dengan jabatan apa dengan gelar S.I.Kom gue. Namun, instansi pertama yang terbesit dalam pikiran gue adalah Kominfo. Honestly, Kominfo adalah salah satu tempat kerja impian gue. Kayak sesuai banget sama passion gue, dan juga jurusan gue. Udah cek jabatan apa aja di Kominfo yang membuka kesempatan untuk lulusan Fikom, dan dapet lah gue. Lanjut ke isi formulir. Lalu ternyata, setelah isi formulir, data diri, dokumen, instansi, dan jabatan yang dipilih, pokoknya segala macem yang di website pendaftaran CPNS, tinggal submit aja, tiba-tiba gue kepikiran untuk lihat formasi dari Instansi Pemkab dan Pemkot Bogor. Gatau kenapa, random aja, gitu. Di Pemkab Bogor, ternyata gak ada jabatan yang sesuai dengan jurusan gue. Tapi di Pemkot Bogor, ada yang sesuai jurusan. Setelah dicek, lokasi tes juga lebih dekat dari rumah, yaitu di Pemda Kabupaten Bogor. Sedangkan untuk Instansi Kominfo, lokasi tes terdekat adalah di BKN Pusat, Jakarta Timur. Jujur, hal ini memengaruhi gue buat ganti instansi, dari Kominfo jadi Pemkot Bogor. Setelah menimbang-nimbang, dengan asumsi bahwa gue akan lolos nantinya, lokasi kantor Kominfo lebih jauh dari rumah, dibanding lokasi Kantor Pemkot Bogor. Dan Bammm!!! jadilah gue pindah pilihan instansi ke Pemkot Bogor dengan jabatan yang gue pilih adalah Ahli Pertama-Pranata Humas (Asisten Administrasi Umum Setda Kota Bogor | Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Kota Bogor).


Long story short, gue lolos seleksi administrasi tanpa mengikuti masa sanggah. Dari situ, gue mulai untuk belajar semaksimal mungkin dengan buku latihan Soal CPNS yang tebalnya lumayan, hehe. Gue belajar semangat banget, sumpah ini jujur. Gue bertekad banget pengin lolos minimal tes SKD-nya dulu. Kalau lagi mumet, gue selingi dengan baca buku lain dulu. Metode belajar gue simple, ikutin aja urutan halaman di buku, mulai dari TWK, TIU, lalu TKP. Materi TWK itu banyaakkkkk banget. Namun dengan sabar gue “makan” semuanya. Pastinya, ada yang masuk otak, ada juga yang baru masuk otak langsung keluar lagi saking banyaknya materi yang mesti dihapal. Setidaknya kita paham apabila nanti keluar soalnya. Jadi, apabila lupa dengan jawaban, bisa dijawab dengan nalar, hehehe. Bikin note-note kecil juga membantu untuk mencatat materi yang dirasa harus dihapal. Selain itu, sering-sering latihan soal. Jadi bisa kebayang bagaimana nanti ketika ujian betulan.


dokumentasi pribadi


Pertama kali yang gue takutkan adalah TIU. Karena, gimana tidak, TIU itu termasuk soal matematika di dalamnya, yang mana gue lemah banget matematika. Se-lemah itu. Tapi tetap, gue latihan soal terus, sehingga beberapa materi matematika berhasil mulus masuk ke otak gue. Nah kalau TKP bermain di nalar. TKP benar-benar harus selalu rajin latihan soal, supaya kita tahu pola jawabannya. Karena, menurut gue, polanya itu mirip-mirip. Namun, semakin gue belajar, yang gue takutkan berubah jadi TWK. Ditambah dengan cerita peserta lain yang udah tes duluan. TWK yang paling sulit.


dokumentasi pribadi


Terhitung gue mulai serius belajar dari bulan Agustus hingga H-1 waktu ujian. Gue dapat jadwal ujian di Gedung Tegar Beriman di sesi 3, pukul 14:00-15:40, tanggal 6 Oktober, which is Hari ulang tahun gue. Persiapan belajar kurang lebih 3 bulan membuat gue PD, bahwa gue akan dapat skor di atas passing grade yang ditentukan, yaitu TWK 65, TIU 80, TKP 166 untuk formasi umum. Pesaing gue di jabatan yang sama ada (kalau gak salah) 270-an peserta.

H-1 tes, persyaratan yang harus dibawa udah gue siapin. Dari kartu ujian, KTP, pensil kayu, sertifikat vaksin, hasil antigen negatif, hingga sarung tangan latex. Semua gue kumpulin dalam satu map bening, supaya besok siang langsung siap gue bawa. Masuk ke hari H ujian, gue ulang tahun. Paginya sebelum tes CPNS, gue juga ada trial test online rekrutmen PT Telkom. Cuma 15 menit, karena baru trial aja. Setelah itu gue lanjutin latihan soal sedikit lagi sebelum gue berangkat ke lokasi tes. Gue gatau hari itu bakal dapat kado manis berupa skor yang bagus, atau kado pahit berupa skor yang buruk. Pastinya, gue berharap gue dapat kado manis. Ibu gue bantu gue dengan cara yang ibu bisa, puasa, dan sedekah (sumpah ini bukan riya, gue hanya cerita perjuangan ibu gue hari itu). berangkat ke lokasi tes diantar bapak. Di jalan bapak nyaranin bacaan-bacaan yang sebaiknya gue baca supaya gak tegang, dan supaya diberikan yang terbaik oleh Allah. Salah satunya surat Al-Insyirah (Oke, gue nangis sambil ngetik ini). Cengeng yaaa. Nah, dari gerbang masuk, sampai gue duduk di meja tes, mulut gue gak berhenti baca doa-doa, dan surat Al-Quran yang disaranin bapak.

Long story short, sampailah gue di lokasi tes pukul 1 siang. Tidak bisa gue pungkiri bahwa gue takut mendapatkan hasil yang buruk. Sampai di area, dicek semua persyaratan yang harus dibawa. Double mask is a must¸ karena virus masih ada di mana-mana. Lanjut ke penitipan barang, dan pakai sarung tangan latexnya. Sumpah, panitianya ramah-ramah banget, lho. BKPSDM Pemkot Bogor harus kasih bonus buat panitianya, hehehe. Setelah dari penitipan barang, kita diarahkan untuk menuju ke depan gedung tes, untuk dilakukan face verification. Setelah terverifikasi, kita menunggu hingga waktu yang ditentukan untuk masuk ke gedung tes. Lalu masuklah kita ke gedung tes. Setelah dapat meja, diarahkan dulu kita mengenai penggunaan aplikasi CAT (Computer Assisted Test), bagaimana apabila laptop yang disediakan eror, dsb. Lalu, tespun dimulai.

Picture by Irma Susanti Sitorus (Anggota Group Telegram CPNS Pemkot Bogor)

Gue kerjain TKP dulu yang menurut gue lumayan mudah, dan PGnya paling tinggi, setelah itu lanjut ke TIU, dan TWK. Seperti yang gue takutkan, menurut gue pribadi, ternyata memang TWK lah yang paling sulit. Beberapa kali gue terkecoh dengan pilihan jawabannya. Dan, soal-soal TWK ini jauh sekali dengan yang gue pelajari di rumah, hehe. Total soal ada 110 dengan waktu 100 menit. Gue bisa isi semuanya sebelum waktu habis, jadi sisa waktu bisa gue pergunain untuk koreksi jawaban yang bisa gue koreksi. 100 menit berlalu, dan semua peserta selesai mengerjakan. Ini lebih deg-deg-an ketimbang sebelum mengisi soal. Dan taraaa, gue lolos PG, namun hanya dapat total skor 404.


Live Streaming Youtube Kanreg III BKN Bandung

I was disapppointed with myself. I was not happy at all. I felt like I wanna cry right at the moment out loud. It was my worst worst worst birthday gift ever. Dan gue tau, kesempatan gue masuk tiga besar amat sangat jauh. Setelah keluar ruangan gue langsung cek live score. And I got 27th rank out of 147 participants in my session. It’s not too bad, but also not good.

It’s okay to cry. It’s okay to failed. At least you tried. You become a champion by fighting one more round. When things are tough, you find one more round.  I am indeed disappointed, I am sad. But, like a “Zero O’Clock” song from BTS, they say, “will something be different? No, probably won’t. But today will over, and you are gonna be happy. Turn this all around, everything is new at zero o’clock. Hoping tomorrow I’ll laugh more. It’ll be better, for me”. Tidak ada yang bisa diubah dari hari ini yang sudah lewat. Jadi, biarkan saja berlalu. Setelah pukul 0 lewat, hari telah berganti, dan gue akan bahagia lagi.

Sedih boleh, nangis juga boleh, tapi sebentar saja. Masih banyak jalan menuju Korea Roma. Masih ada pekerjaan lain di luar sana buat gue. Dan satu yang pasti, tidak akan ada perjuangan yang menghanati hasil. Bisa jadi gue lolos CPNS tahun depan, kan? Aamiin. Hehehe Who knows?

Buat teman-teman yang lolos, dan kebetulan baca ini, gue ucapin selamat, ya.  Semoga nanti kalian bisa jadi PNS yang baik. Aamiin.


Cheers!!!! Terima kasih yang sudah baca^^.

 

9/14/2021

I Got My First Dose of Covid Vaccine!! | Efek Samping Vaksin Sinovac

September 14, 2021 0

 

health.clevelandclinic.org

Seperti judul yang telah kalian baca, I just got my first dose of vaccine on 4th Sept 2021. Sebetulnya rada telat sih, ya. Karena orang-orang kayaknya sudah pada selesai sampai dosis ke dua (bahkan nakes beberapa sudah mendapatkan dosis ke tiga), sedangkan gue baru dapat yang pertama. Hehehe. Sebetulnya bukan karena di wilayah gue jarang yang ngadain vaksinasi. Di wilayah gue, di Cibinong, justru udah sering banget deh yang namanya vaksin massal itu diadain. Kayak contohnya di Stadion Pakansari yang rutin mengadakan vaksinasi massal dosis pertama ataupun ke dua setiap hari Selasa dan Kamis. Belum lagi vaksinasi di mall, di kelurahan, di polres, di kecamatan, dll. Sesering itu diaddakan vaksinasi massal, kenapa gue baru dapat? Bukan karena baru dapat, tapi baru aman. Hehehe.


Gue itu ada masalah dengan riwayat penyakit gue. Yang paling gue takutin adalah kecurigaan dokter online setelah gue konsultasi di ha**doc, bahwa gue punya Rheumatoid Asthritis, salah satu penyakit autoimun. Kita semua tahu bahwa penderita autoimun disarankan untuk menunda vaksinasi. Dan eng ing eng, gue dicurigai kena RA di tahun 2020, waktu Covid lagi baru muncul-munculnya di Indonesia. Waktu itu gue konsul di dokter ha**doc, bahwa tiba-tiba sendi-sendi jari tangan dan kaki gue sakit luar biasa. Gue gak bisa nekuk sempurna ketika duduk Tahiyyat Akhir dan duduk di antara dua sujud. Gue gak bisa megang benda berat-berat, gue gak bisa menggenggam sempurna barang di tangan karena sendi-sendi jari gue sakit. Dan ini gue rasa secara tiba-tiba. Kurang lebih satu bulan gue ngerasain sakit dan gak berani ke dokter karena lagi ramai Covid.


Ketika konsul, gue ditanya apa yang dirasa, gue jelasin semua yang gue rasa, sudah berapa lama gue begini, dan ada gejala lain apalagi. Satu yang gue inget adalah pertanyaan apakah rambut gue akhir-akhir ini jadi lebih rontok. Lol. Gue pikir-pikir waktu itu, dan gue jawab “kayaknya iya, deh”. Padahal setelah dipikir-pikir lagi, emang salah satu permasalahan rambut gue dari dulu ya rontok. Setelah gue jawab iya, dijawablah oleh dokter bahwa gue bisa jadi kena rematik. Ternyata rematik bukan hanya penyakit milik kalangan orang tua, tetapi bisa juga dialami oleh usia muda, nah itu dinamakan RA. Namun tetap, dokter tersebut belum bisa memastikan karena ini semua baru dari hasil wawancara online, belum dicek lab. Gue tetap disarankan untuk pergi ke RS untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Tapi gue gak nurut. Dari situ gue gak pernah ke RS untuk periksa apakah betul gue punya Autoimun, karena gak lama dari situ, Alhamdulillah sakit sendi gue tersebut membaik.


Gue gak pernah konsul ke dokter penyakit dalam mengenai hal itu sampai gue udah harus di-vaksin, karena selain untuk mengurangi gejala apabila terpapar Covid, sertivikatnya juga perlu untuk gue gunakan sebagai syarat tes CPNS. Hehehe. Akhirnya datanglah gue ke dokter umum. Gue ceritain semua dari awal, lalu dokter meminta gue buat cek darah, tapi yang gue heran, ternyata yang di-cek adalah kadar gula darah, kolesterol, dan asam urat. Semua angka menunjukkan hasil yang bagus. Sampai gue cerita bahhwa belum lama ini, kadar asam urat gue tinggi sampai di angka 10 mg/dL, di mana untuk perempuan, amannya adalah 2,4 – 6,0 mg/dL. Lalu setelah tahu bahwa asam urat gue tinggi itu, gue langsung minum obat, makanya pas cek lab hari itu, kadar asam urat gue udah bagus lagi.


Setelah itu dokter umumnya bilang bahwa yang gue rasain tahun lalu adalah asam urat yang lagi tinggi, dan bukan autoimun. Karena kalau gejala RA Autoimun, sendi-sendi jari betul-betul tidak bisa ditekuk. Dari situ aman. Gue udah memastikan bahwa gue aman untuk divaksin.


Pikiran gue berlanjut, di satu sisi, gue juga punya GERD atau bahasa mudahnya asam lambung. Gue kalau lagi panik, asam lambung naik, stres banyak pikiran, gejalanya langsung terasa yaitu sendawa terus, mual, serta sesak nafas. Dan itu masih sering gue rasain. Banyak yang bilang bahwa kita tidak boleh divaksinasi ketika sesak nafas, maka dari itu gue pun kembali bingung amankah gue untuk divaksin. Sampai gue ada di titik bahwa gue harus ikut tes CPNS, dan memerlukan sertifikat vaksin, gue beranikan diri untuk divaksin.


Long story short, gue dapat info bahwa tanggal 4 September, Polres Bogor mengadakan vaksinasi. Gue panik, karena h-1 gue mau divaksin, tiba-tiba sesak nafas gue kambuh wkwkwk. Ini pasti karena gue panik, jadi gue tiba-tiba sesak. Gue coba minumin air hangat supaya mereda, gue coba santai di kasur biar hilang, dan sampai pada gue nemu video di youtube cara mengatur pernafasan supaya sesak nafas mereda. Setelah  gue praktekin, Alhamdulillah sesak nafas gue betul-betul mereda. Alhamdulillah gue rasa gue aman untuk besok divaksin.


Sampailah gue di Polres Bogor jam 7 pagi bareng sepupu. Kita berangkat diantar bapak gue. Ketika ngantri, gue mencoba tidak panik supaya gue gak sesek nafas, tapi sesekali gue harus ngambil nafas dalam karena engap wkwkwk. Lalu nama gue dipanggil giliran, disuntiklah gue di tangan kiri. Deug. Lumayan perih, padahal gue biasa ambil darah ga ada rasanya wkwkwk. Yah, begitulah akhirnya gue dapat vaksin dosis pertama.


Sensasi pertama  yang gue rasain, entah karena panik atau apa, serasa ada yang ngejutin di bagian dada kiri. Cuma sepersekian detik, sih. Dan lagi-lagi gue panik, gue kenapa, nih. Tapi Alhamdulillah aman. Ketika lagi observasi 15 menit, mulai terasa pegal di belakang leher, sakit di area suntik, pegal tangan, pegal bahu, dll. Sejauh itu aman sampai tiba di rumah, dan ngantukkkk banget. Akhirnya tidur kurang lebih 15 menit-an.


Dua hari setelah vaksin, rasa sakit di area suntik masih terasa. Gue berpikir mungkin petugas suntik yang bagian gue rada grogi waktu itu jadi posisinya gak pas, sehingga bikin sakitnya gak ilang-ilang wkwk.


Nah, hari ke tiga setelah vaksin, anehnya gue ngerasain dada kiri gue kayak ketarik, tapi gue gak yakin apakah ini efek vaksin atau bukan. Gue berasa kalau dada kiri atas sampai ke sisi ketiak seperti ada yang mengganjal. Ini gue rasain sampai seminggu setelah vaksin. Sekali lagi gue gatau apakakh ini efek vaksin atau bukan. Intensitas rasanya dari yang kerasa mengganggu sekali, sampai hanya sesekali terasa. Sekarang waktu gue lagi ngetik ini, rasanya sudah hilang. Semoga aja gak kerasa lagi.


Sekarang gue lagi nunggu untuk tes CPNS. Gue lagi giat-giatnya belajar. Sertifikat vaksin sudah di tangan, dan siap di-print untuk tes CPNS. WISH ME LUCK, YA ALLAH.

 

9/03/2021

Book Talk - Loving the Wounded Soul by Regis Machdy

September 03, 2021 1

 

Dokumentasi Pribadi


Judul: Loving the Wounded Soul
Alasan dan Tujuan Depresi Hadir di Hidup Manusia
Penulis: Regis Machdy
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: September 2019
Cetakan ke: Sembilan. Mei 2021
Bahasa: Indonesia
Tebal: 288 halaman
ISBN: 978-602-06-3370-1
ISBN DIGITAL: 978-602-06-3371-8


Membaca adalah salah satu hobi gue. Selain membaca, gue juga hobi menulis. Perpaduan yang sangat serasi, bukan? Hehe. Setiap gue selesai membaca satu buku, banyak sekali pandangan, perasaan, dan kesan yang ada di otak gue, tapi gak pernah gue share ke mana-mana. Sampai gue lupa bagaimana jalan cerita buku-buku atau novel-novel yang udah gue baca bertahun-tahun ke belakang. Nyesel, sih. Seharusnya gue tulis semua pendapat gue. Jadi, gue gak perlu baca ulang dan nginget-nginget buku-buku yang udah pernah gue baca untuk diceritakan di sini. Huhuhu.


Maka dari itu, gue berpikir untuk menuliskan kesan-kesan gue terhadap buku-buku yang baru aja gue baca. Gue gak berani bilang bahwa ini review, ya. Karena, gue takut bisa memengaruhi orang lain yang suatu saat mungkin pengin baca, lalu gajadi beli karena liat ulasan gue yang mungkin gue merasa buku itu gak cocok buat gue pribadi. Di samping itu juga, gue bukan pengamat buku, hehehe. Gue hanya seeorang pembaca, seorang pecinta buku yang mencoba menikmati seluruh karya-karya penulis. 


Mungkin segitu aja bridging dari gue untuk entry pertama blog ini tentang buku. Gue akan bikin bagian ini dengan nama “Book Talk”. Semua yang gue tulis bukanlah sebuah ulasan, melainkan kesan-kesan gue terhadap buku tersebut.


Buku yang baru aja selesai gue baca adalah buku self-improvement dengan judul “Loving the Wounded Soul (Alasan dan Tujuan Depresi Hadir di Hidup Manusia)”, karya Regis Machdy. Mungkin sudah pada tahu, bahwa Regis Machdy adalah co-founder dari website pijarpsikologi.org yang berfokus pada penyediaan informasi serta konsultasi psikologi gratis di Indonesia.


Alasan gue tertarik baca buku ini, jelas sekali karena judulnya. Disclaimer, ya, bahwa gue bukan penderita depresi. Namun gue takut kalau suatu saat gue bakal ngalamin itu. Ada beberapa potensi yang bisa bikin gue mungkin saja akan masuk ke lembah hitam bernama depresi. Di antaranya adalah kecemasan berlebihan yang gue alami, sebut saja anxiety. Nah, anxiety ini berhubungan juga  penyakit gerd (Gastoesophaghal reflux disesase) akut gue, serta hal lain-lain yang tidak bisa gue sebut di sini, ya. Loh, tapi apa hubungannya, sih, depresi dengan gerd? Wah, ada banget, hehehe.


Dijelaskan juga dalam buku ini, pada bagian ciri-ciri depresi, bahwa kecemasan yang terus menerus dapat membuat asam lambung naik, sehingga banyak sekali ketidaknyamanan fisik yang dirasakan oleh seseorang yang cemas berlebihan. Di buku ini, penulis mengatakan kalau ia merasakan tenggorokan yang selalu panas. Berbeda dengan gue, yang kalau ada suatu hal yang membuat gue cemas, panik, maka yang gue rasakan adalah sesak nafas, dispepsia, sendawa tanpa henti, mual, hingga muntah. Begitulah gue menyadari bahwa diri gue butuh sedikit informasi serta pencerahan mengenai apa yang gue alami ini. Tingkat stres yang tinggi, tekanan dalam hidup dari berbagai pihak membuat gue ingin lebih tau apa itu depresi. Dan buku ini membantu sekali.


Dokumentasi Pribadi


Dalam buku ini, banyak sekali teori-teori yang dirangkai dengan amat jelas oleh Regis, sehingga pembaca yang awam sama sekali mengenai depresi akan dengan mudah memahaminya. Dimulai dari bagian pengetahuan umum tentang apa itu kesehatan mental, lalu ciri-ciri depresi, faktor biologis, faktor eksternal, serta bahasan dalam sudut pandang keimanan. Regis juga banyak sekali memberikan contoh yang sangat relate dengan apa yang sedang gue alami. Di beberapa part gue sempat menangis karena membayangkan betapa sulitnya menjadi penderita depresi seperti Regis. Serta menangis karena gue sadar bahwa ternyata gue juga merasakan hal itu.


Bagian "Toxic Relationship" juga really hit me so hard. Apa yang ditulis oleh Regis kerasa relate banget sama gue. Toxic Relationship di sini maknanya luas, ya. Bukan hanya relationship antara kita dan pasangan saja, tetapi dengan semua relasi yang ada di kehidupan kita. Part selanjutnya yang bikin gue bercucuran air mata adalah part di mana Regis berkonsultasi dengan psikolog yang dipanggil Regis dengan Mbak Lita. Bagian dimana mbak Lita mulai menuntun Regis untuk mengingat semua kejadian terkait penolakan yang Regis alami semasa hidup. Mulai dari hari ini, hingga ia masih di dalam kandungan. Semua cerita Regis semasa  hidup tersebut betul-betul menyentuh hati gue. I felt that we are the same. And I cried until I finished that chapter. Ternyata apa yang dilakukan mbak Lita terhadap Regis ada hubungannya dengan depresi faktor eksternal. Di mana bisa saja luka batin yang kita rasakan, adalah luka batin yang diturunkan oleh orang tua kita sendiri, bahkan oleh ibu kita sendiri ketika kita masih dalam kandungannya. Dari sini, gue jadi paham dan mulai menerima apabila mendapat perlakuan dari siapapun, terutama dari orang tua, bahwa mereka bersikap seperti itu disebabkan karena orang tua merekapun dahulu bersikap seperti itu. Ketika luka batin tersebut belum hilang, lalu mereka secara tidak sadar dapat “men-transfer” luka tersebut ke kita. Tugas kita dari sekarang adalah menyetop luka tersebut. Memutuskan luka batin yang sudah kita terima, sehingga keturunan kita nantinya bisa hidup dengan damai.


Dokumentasi Pribadi


Sebagai seorang ilmuwan psikologi, dalam buku ini, Regis banyak sekali mengutip beberapa sumber-sumber kredibel yang ia dapat lewat studi psikologi-nya, dan juga buku-buku psikologi yang ia baca. Judul buku-buku yang dikutip oleh Regis dicantumkan di bagian belakang buku dalam bagian pustaka acuan. Maka dari itu, banyak sekali kata-kata ilmiah baru yang belum pernah gue tau sebelumnya. Tapi tenang aja, di bagian depan sebelum masuk ke inti bacaan, Regis meletakkan daftar istilah dengan artinya, sehingga orang awam seperti gue jadi paham, deh.


Dokumentasi Pribadi


Salah satu bagian yang paling menarik dalam buku ini adalah bagian “Siapapun Bisa Depresi”, dan membahas banyak aspek bahwa semua orang rentan mengalami depresi. Laki-laki/perempuan, tua/muda, orang biasa/orang penting, bahkan selebriti. Depresi erat kaitannya dengan rasa ingin bunuh diri. Dengan segala tekanan dalam hidup, bagi penderita depresi, mati mungkin adalah satu-satunya cara agar mereka bisa lepas dari depresi. Meskipun sebenarnya mereka tidak mau ada di posisi tesebut.


“Tidak ada orang di dunia ini yang ingin

mengidap alergi debu atau asma.  Orang dengan

depresi yang memiliki pikiran bunuh diri pun tak

pernah menginginkan kondisi

tersebut”

 

Begitulah sedikit kutipan yang dituliskan Regis. Pada bagian ini terdapat sub-bagian yang membahas fenomena artis yang bunuh diri dalam perspektif global. Contoh yang disebutkan dalam buku ini adalah Chester Bennington (vokalis Linkin Park), Jonghyun (anggota grup K-Pop, Shinee), Mark Salling (salah satu aktor serial Glee), Avicii (DJ asal Swedia), Anthony Burdain (penulis kuliner koki kelas dunia), dan Kate Spade yag merupakan desainer kelas dunia. Hal ini adalah sebuah gambaran bahwa depresi betul-betul menyerang siapa saja, bahkan kepada orang-orang yang dalam TV kita lihat sehat-sehat saja, bahagia dengan popularitas serta hartanya. Padahal kita gak tau permasalahan apa yang sedang mereka alami.


Dokumentasi Pribadi


Sebelumnya gue mau minta maaf apabila mungkin tulisan ini membangkitkan luka lama yang sudah dipendam oleh penggemarnya. Gue nulis ini hanya untuk sebagai contoh bahwa depresi itu betul-betul nyata dan tidak bisa dispelekan.


Penggemar dari Chester dan Jonghyun pasti tidak menyangka-nyangka bahwa mereka memillih untuk bunuh diri ketimbang hidup di dunia. Ini terjadi karena gelagat mereka sesaat sebelum kematiannya betul-betul seperti orang sehat pada umumnya, dan tanpa meninggalkan tanda. Chester meninggalkan dunia ini pada 20 Juli 2017, di mana pada hari itu juga, Chester masih sempat me-retweet seebuah tweet di akun twitter pribadinya. Berbeda dengan Chester, Jonghyun sempat melakuka sesi live dengan penggemarnya, dua bulan sebelum ia memutuskan untuk pergi. Dalam live tersebut, Jonghyun sempat mengatakan bahwa ia sedang tidak bersemangat dan mood-nya jadi tidak baik. Ia berpikir bahwa itu mungkin terjadi karena sedang perubahan cuaca di Korea. Hal itu mungkin adalah sebuah sign bahwa ia sedang tidak baik-baik saja. Namun hal tersebut baru disadari setelah Jonghyun akhirnya memilih pergi dari dunia ini pada 18 Desember 2017. Gue sendiri adalah penggemar K-Pop. Dan Shinee, adalah salah satu grup yang gue cukup ikuti perkembangannya. Mendengar berita kepergian Jonghyun, awalnya gue pikir adalah sebuah hoax. Namun ternyata beritanya adalah sebuah fakta. 


Dokumentasi Pribadi


Kita tidak pernah tahu bagaimana seseorang berjuang dengan depresi. Lalu motif apa yang menyebabkan mereka depresi. Dalam buku ini dijelaskan bahwa ada dua hal yang harus kita lakukan. Yang pertama, tidak melontarkan ujaran kebencian. Kedua, mari melanjutkan hidup dan menyebarkan cinta kasih untuk diri sendiri, orang lain, dan terlebih kepada mereka yang mengalami depresi dan memiliki pikiran bunuh diri.


Dalam buku ini, dijelaskan pula keterkaitan depresi dengan iman dalam diri sesesorang. Gue sendiri sempat berpikir, apakah orang depresi adalah orang-orang yang jauh dari tuhan, orang-orang yang tidak pernah beribadah, tidak pernah meminta belas kasih kepada tuhannya, sehingga mereka merasa tidak ada yang bisa mereka harapkan? Jawabannya ada di buku ini dalam bagian terakhir yaitu “Higher Meaning”. Regis menyebutkan bahwa ternyata, orang-orang yang lebih “fanatik” terhadap tuhan dan agamanya cenderung lebih rentan dengan depresi. Peneliti psikologi dan agama membagi cara seseorang meyakini agamanya menjadi dua orientasi, yaitu ekstrinsik dan intrinsik. Sekali lagi gue bilang, bahwa Regis menjelaskan bagian yang menurut gue sensitif ini dengan bahasa yang mudah dipahami orang awam dan tidak menyudutkan pihak manapun. 


Dokumentasi Pribadi


Masih banyak sekali bagian-bagian dalam buku yang tidak mungkin gue jelaskan satu-satu di tulisan ini. Jika kalian adalah penderita depresi, atau rentan mengalami depresi, atau seseorang di lingkungan kalian adalah penderita depresi, atau kalian melihat kerabat dekat yang memiliki gelagat depresi, buku ini sangat gue rekomendasikan untuk kalian baca. Buku ini akan membuka perspektif kalian lebar-lebar tentang dunia kesehatan jiwa, terutama depresi.


Sebagai ilmuwan psikolog yang juga pernah mengalami depresi yang berat, gue betul-betul merasakan bahwa Regis sangat ingin menyebarkan pentingnya kesehatan mental bagi masyarakat melalui buku ini. Penjabarannya lengkap, mudah dipahami, sehingga membuat gue merasakan kesan dan pesan positif dari buku ini. Banyak ilmu yang Regis sampaikan terutama buat gue pribadi sebagai pembacanya, yang sedikit banyak bisa membuat gue lebih paham bagaimana gue harus memperlakukan diri gue sendiri –terutama ketika sedang stres–, dan memperlakukan setiap orang, karena setiap orang pasti memiliki masalahnya masing-masing, terutama penderita depresi.


Buku Loving of the Wounded Soul ini membuat gue lebih peka terhadap orang lain, mengajarkan gue pentingnya menjaga kewarasan jiwa dan raga demi menjalani hidup dengan lebih indah, tenang dan damai. Seperti judulnya, mencintai jiwa yang terluka.


Sekian kesan-kesan gue terhadap buku Loving of the Wounded Soul ini. Gue minta  maaf kalau ada beberapa penulisan yang dirasa kurang greget. Semua ini murni dari apa yang gue rasa setelah membacanya. Xoxo.


Dokumentasi Pribadi


Buat yang sudah baca, gue ucapkan Terima kasih. Cheers^^