1/21/2022

Darurat Literasi!! Perpustakaan Umum Kabupaten Bogor Sepi Pengunjung

January 21, 2022 4

 

Gedung Perpustakaan Kabupaten Bogor - Dokumentasi Pribadi

Beberapa hari yang lalu, gue menyempatkan diri untuk berkunjung ke Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor, yang lokasinya ada di Jl. Bersih No. 5, Cibinong, Kabupaten Bogor, tepatnya di komplek pemerintahan Kabupaten Bogor, atau yang biasa disebut Pemda. Perpustakaan Cibinong ini merupakan bagian dari Kantor Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Bogor. Menurut salah satu tulisan di Kompasiana, Kantor Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Bogor ini telah berdiri dari tahun 2000, lho. Cukup lama juga, ya.


Sebetulnya, niat gue untuk main ke Perpustakaan Cibinong ini sudah lama, namun baru bisa gue sempatkan hari Rabu tanggal 5 Januari lalu. Selain untuk lihat-lihat koleksi buku, pinjam buku, melihat bagaimana suasananya, serta apa saja fasilitasnya, gue juga ke sana sekalian untuk melakukan interview kerja online. Karena kalau di rumah, situasinya kurang memungkinkan.


Sampai di depan gedung perpustakaan sekitar jam 10.30 siang, dan yang pertama ada di pikiran gue, kok sepi sekali, hehehe. Jangan lupa cuci tangan dulu sebelum masuk gedungnya, ya. Wastafel kecil dengan keran airnya sudah tersedia di depan gedung. Namun sayangnya, sabun cuci tangannya tidak tersisa di  botolnya ketika itu, jadi gue hanya cuci tangan pakai air aja. Setelah masuk ke gedung, kita akan langsung disambut oleh meja resepsionis yang dijaga oleh satu karyawan (mungkin PNS/honorer), dengan 2 murid PKL. Mereka terlihat sangat santai ketika itu, karena memang sepi pengunjung. Huhuhu. Karena baru pertama ke Perpustakaan Cibinong, gue pun langsung ke meja resepsionis dan tanya-tanya bagaimana proses  registrasinya. Yang ada di pikiran gue ketika itu, sih, gue bakal dibuatkan kartu anggota perpustakaan. Ternyata tidak, kawan-kawan. Gue hanya diarahkan ke meja komputer untuk menuliskan daftar kunjungan hari itu. Dan gue adalah pengunjung ke-12. Iya, pengunjung ke-12 di jam 10.30. Memang sesepi itu, guys.


Lobby Perpustakaan Umum Kabupaten Bogor -  Dokumentasi Pribadi


Nah, setelah mengisi daftar kunjungan, gue diarahkan ke loker. Seperti pada perpustakaan pada umumnya, barang bawaan kita harus ditaruh di loker, ya, termasuk makanan dan minuman. Ketika itu gue cukup bingung, karena ketika gue minta kunci loker ke murid PKL yang sedang jaga, mereka bilang “langsung saja”. Ternyata oh ternyata, semua loker yang masih kosong, kuncinya ditinggal menggantung begitu saja di lokernya. Another culture shock. Selanjutnya, untuk ke ruang baca, gue hanya bawa buku tulis, alat tulis, headset, hand sanitizer, dan phone holder untuk persiapan interview online.


Perpustakaan Cibinong ini terdiri dari 3 lantai. Lantai pertama terdapat meja resepsionis, loker, ruang sholat, ruang baca (lesehan dan meja kursi), serta koleksi buku khusus anak-anak. Di ruang baca lantai 1 ini, cukup sejuk, ya. AC-nya terasa sekali, sehingga membuat kita nyaman. Setelah gue lihat-lihat, terdapat beberapa rak dengan buku pelajaran sekolah, dan beberapa rak lagi untuk buku-buku pengetahuan anak yang lucu-lucu. Seperti buku pengenalan terhadap binatang, pengenalan terhadap cuaca di Indonesia, buku jenis-jenis dinosaurus herbivora, dan lain-lain. Sayangnya, beberapa rak terlihat kosong melompong tanpa buku yang terpajang.


Ruang Baca Lantai 1 -  Dokumentasi Pribadi


Ruang Baca Lesehan Lantai 1 - Dokumentasi Pribadi


Koleksi Buku Anak-Anak Sekolah -Dokumentasi Pribadi


Koleksi Buku Pengetahuan Umum Anak-Anak - Dokumentasi Pribadi


Naik ke lantai 2, ruangannya sangat luas. Namun karena luas tersebut, suasana di lantai 2 jadi kurang nyaman, karena AC tidak terasa sama sekali di ruang baca. Sangat-sangat panas dan membuat gerah, ditambah sepi sekali pengunjungnya. Ketika gue naik ke lantai 2, hanya ada 1 orang pengunjung yang sedang berkutat dengan laptopnya, dengan 2 murid PKL, serta 1 staff di ruang kerjanya. Padahal, koleksi buku di lantai 2 sangatlah menarik. Banyak novel, buku-buku untuk menambah skill, dan ada juga bagian khusus buku-buku agama. Selagi melihat-lihat bagian novel, gue sempat kalap, karena banyak sekali novel yang ingin gue baca ketika itu. Akhirnya gue ambil 4 novel, dan gue bawa ke ruang baca, dengan niat untuk gue pinjam.


Rak-Rak Koleksi Buku di Lantai 2 - Dokumentasi Pribadi

Koleksi Buku Bacaan di Lantai 2 - Dokumentasi Pribadi


Koleksi Lengkap Tafsir Al Misbah di Lantai 2 - Dokumentasi Pribadi


Koleksi Buku-Buku Agama di Lantai 2 - Dokumentasi Pribadi


Oiya, di lantai 2 ini, tepat di bagian kiri ruangan, terdapat jejeran kursi yang sepertinya dapat digunakan untuk acara-acara seperti seminar, atau rapat staff. Banyak sekali kursi berjejer mengingatkan gue dengan kursi di bioskop. Selain itu, terdapat toilet juga di lantai 2 ini, dan pastinya ruang baca yang luas. Setelah explore, akhirnya gue putuskan untuk stay di lantai 2.


Area Untuk Mengadakan Acara di Lantai 2 - Dokumentasi Pribadi


Ruang Baca yang Sangat Luas di Lantai 2 - Dokumentasi Pribadi

Selama menunggu saat interview online, gue sempatkan untuk melanjutkan online course digital marketing dari google. Materinya banyak sekali, sehingga gue cicil pelan-pelan. Lalu 4 novel yang gue ambil dari rak?  Yup, gue amanin untuk gue pinjam. Takut ada yang ambil, padahal sepi pengunjung, ya. Oiya, salah satu fasilitas yang sangat bermanfaat buat gue ketika itu adalah wi-fi. Koneksinya cepat sekali baik di lantai 1 maupun lantai 2.


Waktu berlalu akhirnya para pengunjung banyak yang sudah pulang, termasuk 1 pengunjung yang ada di lantai 2 bersama gue tadi. Dan, ya, akhirnya gue jadi satu-satunya pengunjung di lantai 2. Di ruangan yang luas, kurang sejuk, dan sepi. Karena lumayan iseng, gue turun ke lantai 1 untuk lihat-lihat apakah ada tempat yang pas untuk gue melakukan interview online. Dengan pertimbangan AC yang lebih terasa sejuk, dan suasana yang tidak begitu sepi sehingga tidak iseng, serta cahaya yang lebih terang, akhirnya gue putuskan untuk pindah ke lantai 1, dan gue ambil posisi di ruang baca lesehan anak-anak. That’s why gue tahu buku anak-anak apa saja yang disediakan. Hehehe.


Singkat cerita, jam 2 siang, interview online gue dimulai. Gue udah mempersiapkan headset, namun tidak jadi pakai phone holder, melainkan saat itu HPnya gue senderin pada tumpukan buku-buku. Sempurna! Dan tahukah kalian? Saat itu, jam 2 siang. Pengunjung perpustakaan Cibinong tinggal gue seorang diri. Sisanya hanyalah pegawai-pegawai PNS/honorer, dengan murid-murid PKL yang sudah mulai membenahi buku-buku.


Interview-pun akhirnya selesai dengan lancar selama kurang lebih 30 menit. Dan gue langsung rapih-rapih untuk bersiap pulang dengan membawa 4 novel ke meja resepsionis untuk gue pinjam. Namun sayangnya, Perpustakaan Cibinong belum bisa melayani pinjaman buku saat itu. sedih banget. Gajadi baca novel-novel baru. Huhuhu.


Begitulah kunjungan gue ke Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor/ Perpustakaan Cibinong tersebut. Dan gue rasa, masih banyak banget yang harus dibenahi, ya, oleh staff-staff di sana. Padahal, selama 21 tahun berdiri, seharusnya pihak Dinas Arsip dan Perpustakaan sudah banyak melakukan perbaikan-perbaikan sistem ataupun pelayanan yang ada. Untukmenarik minat berkunjung, wajib sekali pelayanannya ditingkatkan, adakan fasilitas pinjam buku, sosialisasi ditingkatkan agar ramai pengunjung, koleksi buku diperbanyak, fasilitas umum di lantai 2 ditingkatkan, termasuk kenyamanan juga harus dtingkatkan. Nah, buat yang tertarik berkunjung, Perpustakaan Cibinong ini buka di hari Senin sampai Jumat, dari jam 8 pagi hingga 3 sore, ya.


Seperti yang sudah banyak kita ketahui, minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Menurut gue, dengan adanya perpustakaan daerah akan sangat membantu dalam peningkatan minat baca, terutama anak-anak. Dengan banyaknya buku anak yang tersedia di Perpustakaan Cibinong, seharusnya bisa menaikkan paling tidak rasa penasarannya dahulu. Maka dari itu, sosialisasi harus ditingkatkan. Terlebih, area komplek Pemda Cibinong dikelilingi oleh banyaknya sekolah. Dari SD-SMP-SMA/SMK, bahkan TK. Dengan anak-anak cerdas yang memiliki minat baca yang tinggi, masyarakat Indonesia ke depannya pasti akan lebih berilmu dan berkualitas. Bukan begitu?


Banyaknya faktor keterbatasan yang dialami oleh anak-anak Indonesia seperti keterbatasan akses internet, keterbatasan penyebaran buku, kurangnya perpustakaan, kurangnya ajaran oleh orang yang lebih dewasa untuk membaca, serta penggunaan gadget yang menimbulkan adiksi terhadapnya, membuat anak-anak susah mendapatkan akses bacaan. Ujung-ujungnya, minat baca rendah karena tidak terbiasa membaca, dan akhirnya menjadi kurang wawasan. Setelah itu, munculah survei yang menyatakan bahwa Indonesia khususnya Jakarta menduduki peringkat pertama dalam "top 20 cities by number of posted tweets". Duniaperpustakaan.com mengatakan Masyarakat Indonesia hanya bisa "cerewet" saja, tetapi minat bacanya rendah. Unfortunately it's a sad truth.


Tapi tahukah kalian? Ada satu survei yang lumayan membawa angin segar, nih, yaitu survei yang dilakukan oleh The Digital Reader. Dikutip dari salah satu tulisan di kumparan.com, Data survei The Digital Reader menunjukkan persentase minat baca masyarakat Indonesia yang meningkat setiap tahunnya. Pada 2017, persentase minat baca di Indonesia mencapai 36,48 persen. Pada 2018, persentase minat baca di Indonesia mencapai 52,92 persen dan pada 2019 mencapai 53,84 persen. Lalu, pada 2020, hasil kajian kegemaran membaca masyarakat Indonesia tahun 2020 yang dilakukan Perpustakaan Nasional menunjukkan tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia mencapai skor 54,17, lebih tinggi daripada tahun sebelumnya dan termasuk ke kategori sedang.


Maka dari itu, yuk, kita tingkatkan minat membaca kita. Membaca itu seru, lho. Apalagi jika kalian sudah memiliki genre buku favorit. Gue jamin kalian gak akan mau ninggalin buku tersebut sebelum kalian menyelesaikan seluruh halamannya!! Tambah ilmu, tambah wawasan, membuka cakrawala berpikir, dan pastinya tambah pintar, dong


Segitu dulu tulisan dari gue, ya. Semoga bermanfaat dan bisa menjadi masukan buat pengurus Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bogor/ Perpustakaan Cibinong. Buat yang sudah baca sampai ujung sini, terima kasih, yaaa. Sehat selalu, bahagia selalu. Cheers^^

 

1/13/2022

Jelajah Hutan Cipeucang, Pulau Kunti, dan Curug Cimarinjung | Explore Geopark Ciletuh Part. 3

January 13, 2022 2

Bebatuan di Pulau Kunti by John


First post in 2022. And this story is gonna be the continuation of the previous Ciletuh’s story. Gue rasa jaraknya kejauhan, ya, dari cerita sebelumnya, hehe. Well, honestly I am quite busy these days, so I just haven’t had time to write yet. It’s kinda like a money debt lol. And now I will pay the debt.


So, di hari kedua ini, akan lebih banyak tempat wisata yang kita kunjungi dibandingkan di hari pertama kemarin, karena kita berkegiatan dari pagi hari.


Dimulai dari gue, Fifah, dan Nia yang habis sahur dan sholat subuh gak langsung tidur lagi, melainkan malah main game online dulu di HP, meskipun lama-lama akhirnya ngantuk juga. Dan akhirnya kita juga yang bangun duluan sekitar jam 07.30 pagi, dan kali ini Joan juga sudah bangun. Setelah kita berempat selesai mandi, anak-anak yang cowok juga bangun dan langsung mandi.


Hari kedua ini kita bersiap-siap hunting mulai sekitar jam 08.30 karena segala “kengaretan” yang kita buat sendiri. Tour guide kita, Kang Asep, juga sudah datang di penginapan menggunakan motornya. Setelah semuanya siap, berangkatlah kita ke lokasi pertama, dengan Kang Asep yang ikut mobil kita, dan motornya ditaruh di home stay.


DISCLAIMER: PLEASE DO NOT TAKE OUR PICTURES UNLESS YOU GIVE US THE CREDIT AND ASKING US FOR THE PERMISSION FIRST. THANK YOU.


MUSEUM KONSERVASI DAN ARBORETUM CILETUH


Museum Konservasi by Maulana Yusuf


Arboretum Ciletuh - Dokumentasi Pribadi


Museum dan Arboretum Ciletuh ini berlokasi di Jalan Taman Jaya 4, Desa Tamanjaya, Ciemas, Sukabum. Menurut Kang Asep ketika itu, museum dan arboretum ini menampilkan gambaran Geopark Ciletuh yang terdiri dari geological diversity, biological diversity, dan culture diversity, yang tujuannya adalah untuk konservasi, edukasi, serta kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan.


Papan Informasi Keberagaman Geologi Geopark Ciletuh by Cita


Di dalam museum ini banyak sekali ditampilkan keanekaragaman geologi maupun hayati, lho. Terdapat banyak sekali jenis-jenis batu, stalagtit, stalagmit dengan umur yang sudah amat sangat tua, dan salah satu koleksinya adalah batu Peridotit dengan jenis Batuan Beku Ultra Basa dengan usia lebih dari 65 juta tahun yang lalu. Wowww.


Koleksi Bebatuan Museum Konservasi by Ridho



Batu Peridotit dengan Usia >65 juta tahun by Ridho


Selain bebatuan, museum ini juga menampilkan keaneka ragaman hayati berupa replika hewan-hewan seperti owa jawa, elang jawa, monyet, kupu-kupu, dan lainnya.


Replika hewan-hewan khas Ciletuh di Museum Konservasi by Maulana



Replika Kupu-Kupu di Museum Konservasi by Ridho


Lalu untuk Culture diversity, museum ini menampilkan beberapa kebudayaan tradisional seperti senjata tradisional, lalu ada replika berupa sebuah dapur khas jaman dulu yang kompornya masih menggunakan tungku, serta ada alat musik tradisional juga. Pokonya, di museum ini kita bisa mendapatkan gambaran singkat mengenai Ciletuh.


Replika Dapur Tradisional Khas Sunda di Museum Konservasi by Ridho


Dalam kesempatan ini, kita juga melakukan sesi wawancara dengan ketua PAPSI, Endang Sutisna. Beliau dengan sangat baik dan terbuka menjelaskan kepada kita tujuan PAPSI untuk Ciletuh, kontribusi PAPSI, kebudayaan Ciletuh, dan lainnya. It was an honour for us at that time


Wawancara Tim dengan Ketua PAPSI, Kang Entis/Endang Sutisna by Cita

Beliau menjelaskan, kita bisa berkontribusi membantu Ciletuh melalui PAPSI dengan ikut adopsi pohon dengan biaya satu pohonnya hanya 20 ribu (tahun 2018). Tanpa berpikir panjang, kitapun melakukan adopsi pohon. Dan menurut Kang Entis (nama panggilan Kang Endang Sutisna), setelah satu tahun nanti, pohon tersebut akan diberi nama sesuai nama adopternya. And now, I just wondering, setelah setelah hampir 4 tahun berlalu, sudah sebesar apa pohon yang kita tanam waktu itu, ya? Hehehe.


Proses Penanaman Adopsi Pohon di Area Museum Konservasi Bersama Ketua PAPSI, Kang Entis by John


KAWASAN HUTAN KONSERVASI CIPEUCANG (THE CIPEUCANG CONSERVATION FOREST)


Papan Infomasi Kawasan Hutan Konservasi Cipeucang by Maulana


Setelah selesai hunting kita di Museum Konservasi dan Arboretum, lanjut lagi kita ke destinasi selanjutnya yaitu ke Kawasan Hutan Konservasi Cipeucang. Lokasinya adalah di Desa Mekarsari, Kecamatan Ciemas, Sukabumi. Kang Asep  membawa kita ke sini karena di dalam hutan Cipeucang ini ditemukan Bunga langka khas Indonesia, Rafflesia Patma, yang sayangnya ketika kita kunjungi lokasinya, bunga tersebut masih berupa tunas yang belum mekar. Huhuhu sayang sekali. 


Tunas Rafflesia Patma yang Belum Mekar by Ridho


Lokasi tunas Rafflesia yang kita temui tersebut berada di pinggir jalan raya, lalu kita masuk sedikit ke hutan Cipeucang yang jalannya berupa sedikit turunan –yang lumayan membuat cewek-cewek susah untuk turun, hehe-. Nah, tidak jauh dari jalur setapak  tersebut, tunas Rafflesia menempel di akar pohon yang menjadi inangnya.


Jalan Kaki Menuju Lokasi Rafflesia Patma by Cita


Masuk ke dalam Kawasan Hutan Cipeucang by Cita


Foto-foto dan Rehat Sebentar di depan Kawasan Hutan Cipeucang by John


Karena pada hari kita kunjungan, bunganya belum mekar, maka, gambar bunga mekarnya gue insert di bawah dari website Sukabumi Update, ya.


Bunga Rafflesia Pama yang Telah Mekar di Kawasan Hutan Cipeucang by Sukabumi Update


Kang Asep menceritakan pada kita, bahwa sebetulnya ditemukan beberapa Rafflesia lain di kawasan hutan Cipeucang ini, tetapi karena satu dan lain kendala, tim peneliti belum bisa memastikan semuanya. Mari kita tunggu update-nya dari PAPSI, yaaa.


PULAU KUNTI


Papan Nama Pulau Kunti by Maulana


Destinasi wisata kita selanjutnya adalah Pulau Kunti. Lokasinya di  Desa Mandrajaya, Kecamatan Ciemas, Sukabumi. Eitsss, jangan takut dulu. Meskipun namanya Kunti, tapi tidak ada hubungannya dengan hantu rambut panjang itu, ya. Tau ga, sih, kenapa diberi nama Pulau Kunti? Menurut transmetro.id, pulau tersebut dinamakan Kunti karena adanya tawa kuntilanak. Hihihi. Tapi, suara tawa itu tidak setiap saat terdengar, melainkan hanya saat badai atau ketinggian air pasang gelombang di perairan mencapai 4 hingga 5 meter. Kemudian, gelombang yang menghantam deretan batuan lava di Pulau Kunti menghasilkan gema mirip kuntilanak tertawa. Jadi, suara ‘kuntilanak’ itu terbentuk secara alamiah. Begitulah asal-usul nama Pulau Kunti.


Pasir Putih Pulau Kunti by Ridho


Bebatuan Pulau Kunti by Ridho

Nah, sayangnya, pada saat perjalanan ke Pulau Kunti, di mobil, gue masuk angin, alias mabok darat. Huhuhu. Gue mual-mual, dan pucat. Terlebih ketika itu sedang puasa Ramadhan. Akhirnya, mau tidak mau, terpaksa puasa hari itu gue batalkan karena gue bener-bener gak kuat. Huhuhu. Sesampainya di kawasan parkir Pulau Kunti, gue nyari warung untuk beli air mineral dan makanan kecil untuk membatalkan puasa. Karena hal ini, gue jadi gabisa ikut masuk ke Pulau Kunti. Sungguh sangat amat disayangkan. Lucunya, Afifah, Nia, dan Joan juga ikut-ikutan tidak ikut masuk ke Pulau Kunti, padahal mereka bertiga sehat. Sungguh sangat disesalkan. Akhirnya, di dalam mobil gue minum air, minum tolak angin, dan makan cemilan yang baru dibeli. Joan juga sempat ngerokin gue. Huhuhu. Thank you, Joan. Setelah istirahat itu, Alhamdulillah gue membaik.


Dari cerita cowo-cowo yang masuk ke Pulau Kunti, mereka bilang bahwa Pulau Kunti indah banget. Pasirnya putih, dan airnya biru. Mereka juga sempat singgah di goa kecil yang ada di pinggir pulau. Goa tersebut bernama Goa Anti Jomblo. Ada mitos juga, lho di Goa itu yang sudah mengalir manjadi cerita turun temurun. Menurut transmetro.id, konon katanya, Goa ini bisa mempercepat dalam mendapatkan tambatan hati. Ahahaha.


Goa Anti Jomblo Pulau Kunti by Ridho


Pemandangan dari dalam Goa by Ridho


Oiya, di sana mereka juga menyewa perahu kecil untuk berkelilling pulau. Sayangnya, gue lupa berapa biaya sewanya ketika itu. Intinya, gue sangat amat menyesal karena gabisa ikut ke Pulau Kunti. Huhuhu.


Perahu-Perahu Kecil di Pulau Kunti Untuk Disewakan by Ridho


Pemandangan Pulau Knti, Ciletuh by Ridho


PANTAI PALANGPANG

Dari Pulau Kunti, kita semua lanjut ke Pantai Palangpang. Nah, seinget gue, Pantai Palangpang ini satu jalur dengan arah jalan balik dari Pulau Kunti. Jadinya, kita sekalian mampir ketika itu. Namun kita tidak turun untuk menikmati keindahan Pantai Palangpang, karena pada saat itu, Pantai Palangpang sedang terlihat kurang bersih. Pantainya kotor, dan lumayan banyak sampah berserakan. Terlebih ketika itu hawanya sedang panas sekali. Jadi, kita hanya berhenti, turun untuk ambil foto tulisan “GEOPARK CILETUH” sebentar, dan lanjut jalan lagi ke destinasi wisata selanjutnya.


Tulisan "Geopark Ciletuh" yang Menjadi Ikon di Pantai Palangpang by Ridho


Oiya, yang gue baca-baca dari internet, Pemdes Ciwaru mengadakan kegiatan bersih-bersih sampah di Pantai Palangpang. Semoga aja, sekarang Pantai Palangpang sudah berubah menjadi lebih indah dan lebih bersih, ya. Ini dia link beritanya (Dikotori Sampah, Pemdes Ciwaru Sukabumi Bakal Gelar Bersih-Bersih Pantai Palangpang)

 

CURUG CIMARINJUNG


Nahhh, ini dia nih yang gue tunggu-tunggu dari hari pertama kita di Ciletuh. Curug!!! Siapa, sih,  yang gak suka berwisata ke Curug? Apalagi Curug yang air terjunnya deras, pemandangannya indah. Cuci mata banget ga sih?  


So, Curug pertama yang kita datangi adalah Curug Cimarinjung. Curug Cimarinjung berlokasi di Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, dan jaraknya tidak jauh dari Pantai Palangpang. Curug Cimarinjung memiliki ketinggian air terjun sekitar 50 meter dengan curahan airnya yang sangat deras. Saat kita sudah mulai masuk ke kawasan Kecamatan Ciemas yang dikelilingi pesawahan, Curug Cimarinjung sudah mulai terlihat dari jauh. 


Curug Cimarinjung Dilihat dari Jauh by Cita


Akses jalan menuju Curug Cimarinjung ketika itu cukup menantang, ya. Yang menggunakan mobil, harus banget pakai seat belt-nya, karena kondisi jalan yang masih belum mulus ini bisa bikin kalian terlempar-lempar ke sisi-sisi di dalam mobil. Namun, hal ini tidaklah seberapa dengan “bayaran” keindahan yang disajikan Curug Cimarinjung.


Kita semua turun di parkiran Curug Cimarinjung. Dari parkiran, kita masih harus berjalan kaki menyusuri jalan kurang lebih 100-150 meter hingga sampai di depan Curug Cimarinjung. Sepanjang jalan menuju Curug tersebut, kita juga dimanjakan dengan aliran air yang gue gak tau aliran air dari mana. Di situ, kita bisa rehat sejenak untuk duduk dan membasahi kaki kita dengan air mengalir tersebut. Wahhh seger banget. Selain itu juga ada warung kecil untuk yang mau makan mie rebus, ataupun ngeteh dan ngopi. Dan taraaa, sampailah kita di depan Curug Cimarinjung.


Gapura Masuk ke Curug Cimarinjung by Cita



Jalan Setapak Menuju Curug Cimarinjung dengan Aliran Air di Sisi Jalan by Ridho


Curug Cimarinjung dari Dekat by Cita


Biasa. Karena gue anak yang lumayan norak, dan ga biasa melihat keindahan alam, I was so amazed with the Curug Cimarinjung at that time. Air terjunnya mengalir sangat deras, dengan dikelilingi tebing-tebing batuan alami yang ditumbuhi dengan tumbuhan hijau, serta pohon-pohon kecil yang mengelilingi. Di dasar Curug juga terdapat dua bongkah batu yang sangat besar yang mengapit aliran air terjun Curug Cimarinjung. Ditambah dengan suara air terjun yang kencang namun menenangkan. Gue sempat “manjat” tebingnya untuk ambil gambar. Hehehe. Gak begitu seram, kok, yang penting harus hati-hati supaya tidak terpeleset.


Curug Cimarinjung Dikelilingi Tebing-Tebing Tinggi by Cita


Dua Bongkah Batu besar di depan Curug Cimarinjung by John


Potret Curug Cimarinjung dari bawah by John


Okay, gue rasa udah terlalu panjang ya tulisan kali ini. Gue kira cerita Ciletuh ini bisa gue habiskan hanya dengan 3 part aja, ternyata belum cukup, guys. Hehehe. Untuk menghindari kebosanan membaca, gue bakal terusin lagi ceritanya sampai di part 4. Please wait for the next story of us in Ciletuh, ya.


Jangan lupa baca part 1-nya di sini, dan part 2-nya di sini


Thank you so much buat yang sudah baca. Sehat selalu, bahagia selalu. Cheers^^

 



12/31/2021

Welcoming 2022, After the Ups and Downs in 2021

December 31, 2021 5

 

Ilustrasi kembang api tahun baru-thejakartapost.com

In less than 3 hours, we will leave 2021 and welcome the year of the tiger, 2022. For me personally, during 2021, many amazing things have happened to me. From the sad ones, the struggles of ups and downs, about feelings, about my own life which is getting more and more full of challenges, pressures, and of course struggles. But I'm grateful. I am grateful that in fact, living with challenges actually makes us more “alive”. Ahahaha. Kinda cliche but yeah I think there's some truth in that too. A comfortable life may make us always happy, however, "the path to happiness is a path full of shitheaps and shame". If you are familiar with that sentence, you are right, I quoted that sentence from Mark Manson's book entitled “The Subtle Art of Not Giving a F*ck”. Anyway, got it, right, with that quote? That every happiness, satisfaction, or success that we achieve is the result of every challenge and struggle that we go through.


Kutipan dalam buku "Sebuah seni untuk bersikap bodo amat" - Dokumentasi Pribadi

Di awal-awal 2021, hal yang tidak akan pernah gue lupakan adalah ketika bapak gue didiagnosa diabetes. Gue rasa kejadian ini adalah kejadian yang paling paling paling menyedihkan yang pernah gue alami di 2021. Dimulai dari awal-awal tahun 2021 bapak gue mengeluh lemas. Hingga singkat cerita, ternyata bapak terdiagnosa diabetes. Gula darahnya tinggi sekali ketika itu. Gue ingat banget angkanya menyentuh 495 mg/dl. It was really high. Setelah bed rest di rumah dan tidak kunjung membaik, bapak akhirnya kita bawa ke RS. Saat itu, ketika angka covid sedang tinggi, bapak yang dari IGD seharusnya langsung ke ruang rawat inap untuk perawatan diabetes, malah harus isolasi terlebih dahulu sendirian di ruang isolasi karena ditemukan flek pada paru-parunya. Setelah 5 hari isolasi, Alhamdulillah hasil swab selalu negatif, dan bapakpun bisa pindah ke ruang rawat biasa. Gue dan ibu selalu ganti-gantian nemenin karena pasien hanya boleh didampingi oleh satu orang. Yang bikin lebih sedih, ibu gue pun ikut sakit. Ibu meriang, demam tinggi selama seminggu karena shock dengan keadaan bapak saat itu. Gue, si anak tunggal hanya bisa berusaha merawat dua-duanya. Bapak di RS, dan ibu di rumah.


Puasa tahun 2021 juga otomatis jadi menyedihkan. Yang biasanya ada makanan manis ketika buka puasa, sekarang jadi ditiadakan mengingat diabetes bapak. Begitupun dengan makanan lain yang betul-betul kita jaga demi kesehatan bapak. Suasana Ramadhan tahun 2021 juga benar-benar suram. Karena bapak yang biasanya aktif di masjid, masih lemas di rumah, mekipun sudah membaik. Namun Alhamdulillah ketika lebaran, kondisi bapak jadi jauh lebih baik. Seperti yang orang banyak bilang, obat diabetes adalah puasa. Dan bapak puasa Ramadhan 30 hari full meskipun ketika itu masih sakit dan belum begitu stabil gula darahnya. Sekarang, Alhamdulillah bapak sudah sehat. Gula darah sudah stabil, namun masih terus minum obat dan kontrol ke RS sebulan sekali.


Cerita lain adalah ikutnya gue dalam seleksi CPNS yang sudah gue ceritakan full di sini. Menyedihkan. Tapi, perjuangan tidak akan pernah menghianati hasil. Dan gue yakin akan hal ini. At least setidaknya materi-materi sejarah, matematika, bahasa Indonesia, UUD, Pancasila, dan lain-lain yang sudah gue lupa setelah sekian lama jadi teringat lagi. Hehehe. Dari awal-awal tahun gue mengurus bapak, akhirnya CPNS adalah proses pertama gue di 2021 dalam pencarian kerja.


Dari CPNS, lanjut lagi pada rekrutmen Telkom GPTP. Gue pun fokus dan serius ikut seleksi ini. Namun sayangnya, gue hanya bisa lolos hingga tes Cognitive Ability & Digital Mindset Assessment. Sedih? Lumaya, sih. Tapi, life must go on. Tadinya keikut sertaan gue di seleki GPTP Telkom ini mau gue share di sini. Tapi karena terlalu singkat, jadi gajadi, deh.


Mulai awal-awal Nopember lah gue mulai serius jobseeking lagi. iya, buat HR yang mungkin bertanya-tanya ke mana aja setelah internship gue di Pertamina Foundation kelar, ya karena yang gue ceritain di atas tersebut. Andai saja mereka baca ini ya, sehingga gue tidak perlu menjelaskan dengan lebar lagi ketika sesi interview.


Dari situ, gue mulai perbagus CV, LinkedIn gue aktifin lagi, blog yang sudah lama "tidur" gue bangunin lagi. Tebar CV sesuai dengan skill pun dimulai. Alhamdulillah, beberapa kali gue ikut interview di perusahaan kepinginan gue dari dulu, yaitu perusahaan media. Gue senang banget. Senang banget banget, dan selalu semangat kalau ada jadwal interview. Hingga di akhir Nopember, gue dapat panggilan dari salah satu media TV terbesar di Indonesia dengan posisi yang sesuai juga dengan gue. Gue betul-betul senang banget. Gue ikutin prosesnya dari awal hingga akhir. Namun pada akhirnya, gue masih dinyatakan tidak lolos. Mungkin ceritanya bakal terpisah ya nanti. Hehe. Tapi jujur, gue lumayan sesak dibuatnya.


Di tahun ini juga, gue sadar bahwa masih banyak teman-teman yang peduli sama gue. Mereka mendukung gue dengan segala apa yang gue curhatin ke mereka. Gue sudah mulai bisa mengungkapkan apa yang selama ini gue pendam rapat-rapat dari siapapun. Mungkin gabisa gue sebut-satu-satu namanya. Tapi gue sangat berterima kasih atas kalimat motivasi, doa, saran, serta cinta yang mereka kasih ke gue. Mereka sangat supportive dan selalu dukung gue.


Di tahun ini pula, gue yang sudah sekian lama mengalami reading slump, mulai membaca buku lagi setelah Lulu ngasih gue buku. Lulu bikin gue ingat bahwa banyak buku yang gue punya tapi belum pernah gue baca. Lulu, thank you so much. Thank you juga buat netflixnya. Meskipun gak gue pakai karena gue gaenak L. Take a look of her blog here -> (luluthf.wordpress.com). I swear she is such a talented girl


It's from Lulu. Buku Mengheningkan Cinta - Dokumentasi Pribadi


Ya begitulah tahun 2021 gue. Ups and downs and ups and downs. Sedih pasti. Nangis setiap hari. Stress sampai sudah bisa gue tahan. Tapi seperti kata BTS. Life goes on. Hidup terus berjalan, bumi terus berputar, umur terus berkurang. Kalau kita diam aja, buang-buang waktu. Kapan suksesnya?


Life Goes On MV on Hybe Labels Youtube


Sekali lagi gue bersyukur bisa mengalami pengalaman seperti ini di 2021. Though it was hard, but it was still a blessing. Selalu ada pelajaran yang bisa gue petik. Selalu bertambah kadar ikhlas dalam hati gue, bertambah juga kadar kesabaran yang gue punya. Satu-satunya yang berkurang adalah jatah kegagalan. Setelah jatah gagal gue habis, gue bakal secepatnya meraih kesuksesan, bukan?


Terakhir, gue mau ngutip caption-nya J-Hope di instagram. He said “it was a year of boundless love, expectations and encouragement for which I’m thankful and thankful again, and I ready my self so that in 2022 I can give back what I’ve received”.


@uarmyhope on instagram


Happy new year 2022 to everyone reading this. I hope that 2022 will be a year full of joys and blessings. May what we hope for, come true in 2022. May our dreams be achieved in 2022. May our family be given health in 2022. May the covid virus disappear in 2022. Aamiin.


Terima kasih buat yang sudah baca. Sehat selalu, bahagia selalu. Cheers^^